Manhaj Pemikiran Aswaja


Oleh : Jamal Makmur, MA

Tulisan panjang di atas menjadi prawacana untuk memahami Aswaja yang lahir dari konflik identitas teologis. Aswaja lahir untuk meluruskan penyimpangan yang dilakukan oleh golongan lain agar sesuai dengan paham yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya. Penyimpangan lahir karena faktor politik yang melibatkan Mu’awiyah, Ali bin Abi Thalib, dan kelompok yang netral. Kelompok netral ini dipelopori oleh Abdullah bin Umar. Namun kelompok netralis ini ditendang oleh Mua’wiyah. Kemudian dalam perjalanannya bergabungkan golongan as-sunnah (para netralis politik Madinah) dan al-jama’ah (para pendukung Mu’awiyah). Inilah embrio Ahlussunnah Wal Jama’ah (Nurcholis Madjid, 1987).[1]  Ahlussunnah adalah mereka yang banyak bergaul dengan para ulama anggota keluarga Nabi. Peran Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab sangat besar dalam merumuskan doktrin Aswaja sebagai sosok mujtahid yang teguh berpegang kepada teks (al-qur’an-hadis) dan kemaslahatan manusia.[2]

Tulisan selanjutnya akan mengenalkan Aswaja secara mendalam, khususnya Aswaja yang berkembang di Indonesia, supaya kita bisa mengamalkan ajaran Aswaja mantap karena didasari oleh pengetahuan dan bisa menepis tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan oleh sebagian kelompok yang tidak senang terhadap tradisi yang berkembang dalam komunitas Aswaja, khususnya Aswaja Nahdliyah di Indonesia.

A.     Definisi

Aswaja versi bahasa terdiri dari tiga kata, ahlu, as sunnah, dan al jama’ah. Kata ahlu diartikan sebagai keluarga, komunitas, atau pengikut. Kata as sunnah diartikan sebagai jalan atau karakter. Sedangkan kata al jamaah diartikan sebagai perkumpulan. Arti sunnah secara istilah adalah segala sesuatu yang diajarkan Rasulullah SAW., baik berupa ucapan, tindakan, maupun ketetapan. Sedangkan al-jamaah bermakna sesuatu yang telah disepakati komunitas sahabat Nabi pada masa Rasulullah SAW. dan para era pemerintahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Dengan demikian Aswaja adalah komunitas orang-orang yang selalu berpedoman kepada sunnah Nabi Muhammad SAW. dan jalan para sahabat beliau, baik dilihat dari aspek akidah, agama, amal-amal lahiriyah, atau akhlak hati.[3] Jama’ah mengandung beberapa pengertian, yaitu : kaum ulama atau kelompok intelektual; golongan yang terkumpul dalam suatu pemerintahan yang dipimpin oleh seorang amir; golongan yang di dalamnya terkumpul orang-orang yang memiliki integritas moral atau akhlak, ketaatan dan keimanan yang kuat; golongan mayoritas kaum muslimin; dan sekelompok sahabat Nabi Muhammad SAW.[4]

Menurut Imam Asy’ari, Aswaja adalah golongan yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadis, dan apa yang diriwayatkan sahabat, tabi’in, imam-imam hadis, dan apa yang disampaikan oleh Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal.[5] Menurut KH. M. Hasyim Asy’ari, Aswaja adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi, para sahabat, dan mengikuti warisan para wali dan ulama. Secara spesifik, Aswaja yang berkembang di Jawa adalah mereka yang dalam fikih mengikuti Imam Syafi’i, dalam akidah mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili.[6] Menurut Muhammad Khalifah al-Tamimy, Aswaja adalah para sahabat, tabiin, tabiit tabi’in dan siapa saja yang berjalan menurut pendirian imam-imam yang memberi petunjuk dan orang-orang yang mengikutinya dari seluruh umat semuanya.[7]

Definisi di atas meneguhkan kekayaan intelektual dan peradaban yang dimiliki Aswaja, karena tidak hanya bergantung kepada al-Qur’an dan hadis, tapi juga mengapresiasi dan mengakomodasi warisan pemikiran dan peradaban dari para sahabat dan orang-orang salih yang sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi. Terpaku dengan al-Qur’an dan hadis dengan membiarkan sejarah para sahabat dan orang-orang saleh adalah bentuk kesombongan, karena merekalah generasi yang paling otentik dan orisinal yang lebih mengetahui bagaimana cara memahami, mengamalkan dan menerjemahkan ajaran Rasul dalam perilaku setiap hari, baik secara individu, sosial, maupun kenegaraan. Berpegang kepada al-Qur’an dan hadis ansich, bisa mengakibatkan hilangnya esensi (ruh) agama, karena akan terjebak pada aliran dhahiriyah (tekstualisme) yang mudah menuduh bid’ah kepada komunitas yang dijamin masuk surga, seperti khalifah empat.

B.     Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, yang paling dominan adalah mengikuti Imam Asy’ari dalam aspek aqîdah, Imam Syâfi’i dalam aspek fiqh, dan Imam Ghazâli dalam aspek tasawuf. Karya-karya mereka dikaji di pesantren, madrasah, majlis ta’lim, masjid, mushalla, dan lain-lain. Imam Asy’ari terkenal dengan kemampuannya menggabungkan dimensi rasionalitas Mu’tazilah (karena lama menjadi pengikut Mu’tazilah) dan tradisionalitas Jabariyah (fatalistik). Teori kasb (upaya/usaha) adalah buktinya. Teori ini dimunculkan sebagai mediasi antara kaum rasionalis dan tradisionalis, bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berusaha, namun hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.[8]

Imam Syâfi’i terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas ahlu al-ra’yi (pengikut Imam Hanafi di Irak) dan tradisionalitas ahlu al-hadîs (pengikut Imam Mâlik di Madinah). Konsep qiyâs (analogi) dan istiqrâ’ (penelitian induktif) dalam menjawab masalah-masalah aktual adalah pemikiran cemerlang Imam Syâfi’i yang menggemparkan jagat intelektualitas pada masa itu. Sedangkan Imam Ghazâli terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas filosof, formalitas ahli fiqh, dan esoteritas kaum sufi. Ihyâ’ Ulûmiddîn adalah master piece Al-Ghazali yang mengandung kedalaman kajian aqîdah, filsafat, fiqh, tasawuf, sosial dan politik dalam satu kesatuan  yang holistik. Tasawuf falsafi dan amali digabungkan dalam satu pemikiran dan tindakan yang membawa perubahan positif bagi masa depan dunia dan akhirat.

Menjadi kader Aswaja Nahdliyah di masa depan harus mampu menguasai tiga bidang di atas sekaligus. Ahli di bidang aqîdah, fiqh, dan tasawuf yang membawa perubahan dan kemajuan besar bagi peradaban dunia. Tidak hanya itu, kader Aswaja juga harus menguasai tafsir, hadis, dan pemikiran para pemikir Islam dalam semua bidang, karena Aswaja adalah golongan yang mengikuti sunnah Nabi, khulafâ’ al-râsyidîn, dan golongan mayoritas umat (al-sawâdu al-a’dham). Mengikuti jejak pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Ahmad Shidiq, KH. Ali Ma’shum, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Musthofa Bisyri, dan KH. Sa’id Aqil Siradj adalah langkah terbaik untuk mengembangkan Aswaja secara dinamis dan produktif. Semangat membaca dari berbagai sumber pengetahuan, baik Barat maupun Timur, mengapresiasi pemikiran dan budaya lokal, menulis buku dan kitab, berjuang mencerdaskan umat dan menyejahterakan rakyat, dan aktif melakukan kaderisasi adalah kunci sukses dalam mengembangkan Aswaja.

Kader Aswaja juga harus mampu menepis tuduhan sepihak yang dilontarkan kelompok lain yang mengatakan bahwa banyak praktek budaya yang dilakukan warga NU termasuk bid’ah tersesat yang ancamannya adalah masuk neraka.

C.     al-Bid’ah

Ahlus sunnah berarti lawan kata dari ahl al-bid’ah. Menurut Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasulullah.[9] Menurut KH. Moh. Hasyim Asy’ari, bid’ah adalah membuat hal baru dalam agama, sehingga kelihatan termasuk dalam agama, sedangkan hakikatnya tidak, baik dalam bentuk simbol ataupun hakikat. Parameter bid’ah ada tiga. Pertama, melihat prakteknya, jika sesuai dengan kandungan besar syari’ah dan sumbernya, maka tidak dikatakan bid’ah. Kedua, melihat kaidah para imam dan umat terdahulu yang mengamalkan sunnah. Yang sesuai tidak dikatakan bid’ah. Ketiga, melihat hukum secara detail, baik itu wajib, sunnah, haram, dan lain-lain. Sedangkan bid’ah itu sendiri dibagi menjadi tiga. Pertama, bid’ah sharîhah (bid’ah yang jelas), yaitu bid’ah yang tidak punya sumber agama. Inilah adalah bid’ah paling jelek. Kedua, bid’ah idhâfiyah (bid’ah yang komplementer), yaitu bid’ah yang disandarkan pada sesuatu yang jika diterima, maka tidak boleh ada pertentangan apakah ia sunnah (jalan Nabi) atau tidak bid’ah. Ketiga, bid’ah khilâfiyyah (bid’ah yang diperdebatkan), yaitu bid’ah yang didasarkan pada dua sumber yang tarik menarik, ada yang mengatakan bid’ah dan ada yang mengatakan sunnah dengan dasar masing-masing.[10]

Menurut Imam Syafi’i, bid’ah (muhdatsat) ada dua. Pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma; dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela. Bahkan dalam kitab lain Imam Syafi’i menegaskan bahwa setiap sesuatu yang mempunyai dasar dari dalil-dalil syara’, bukan termasuk bid’ah, meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka yang meninggalkan hal tersebut kadang karena ada udzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama atau barangkali hal itu belum diketahui oleh mereka.[11]

Menurut Imâm Izzuddîn Ibn Abdissalâm sebagaimana dikutip KH. Moh. Hasyim Asy’ari, bid’ah adalah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan pada masa Nabi Muhammad Saw. Bid’ah ini dibagi menjadi lima. Pertama, wâjib (harus dilakukan), seperti belajar nahwu dan kata-kata yang asing dalam al-Qur’an dan sunnah yang menjadi kunci untuk memahami syari’at. Kedua, harâm (dilarang), seperti madzhab Qadariyah (manusia punya kehendak dan kemampuan untuk melakukan sesuatu secara bebas), Jabariyah (manusia tidak berdaya melakukan sesuatu), dan Mujassimah (berkeyakinan bahwa Allah mempunyai organ tubuh). Ketiga, sunnah (dianjurkan), seperti mendirikan pondok, madrasah, dan setiap kebaikan yang tidak dilakukan di masa awal. Keempat, makrûh (dibenci), seperti menghias masjid dan mushaf (lampiran al-Qur’an). Dan kelima, mubâh (diperbolehkan), seperti bersalaman setelah shalat shubuh dan ashar dan makan, minum, pakean, dan lain-lain secara leluasa. Dari keterangan, bahwa praktek di masyarakat seperti membuat tasbîh, melafadzkan niat, tahlîl ketika sedekah hari kematian ketika tidak ada yang melarang, ziarah kubur, dan lain-lain tidak termasuk bid’ah. Sedangkan praktek mengambil harta pada waktu pasar malam, bermain di distrik, dan lain-lain adalah bid’ah yang jelek.[12]

Keterangan di atas memberikan gambaran pemahaman konfrehensif bahwa bid’ah tidak semuanya sesat, bahkan di zaman modern ini menjadi tantangan sendiri bagi umat Islam untuk melakukan revitalisasi konsep bid’ah, khususnya yang wajib dan sunnah sebagaimana dijelaskan Imâm Izzuddîn Ibn Abdissalâm demi pengembangan peradaban Islam di era global. Bid’ah wâjib dan sunnah mengharuskan umat Islam menjadi aktor kreatif, kompetitif, dan produktif dengan melahirkan karya-karya intelektual dan sosial yang berkualitas tinggi yang membawa manfaat besar bagi peradaban umat manusia sepanjang masa. Sedangkan amaliah tahlil, yasinan, selamatan, dan lain-lain yang dilakukan warga NU mempunyai dasar yang kuat dalam al-Qur’an dan hadis,[13] sehingga masuk dalam kategori bid’ah hasanah, atau menurut Imam Syafi’i tidak bisa dikatakan bid’ah.

D.    Prinsip-Prinsip Aswaja

Prinsip-prinsip Aswaja antara lain :

1.     Al-Tawasuth dan al-Iqtishad

Tawasuth adalah suatu pola mengambil jalan tengah bagi dua kutub pemikiran yang ekstrem (tatharruf): misalnya antara Qadariyah (free-william) di satu sisi dengan Jabariyah (fatalism) di sisi yang lain; skriptualisme ortodokos salaf dan rasionalisme Mu’tazilah; dan antara Sufisme Salafi dan Sufisme Falsafi. Pengambilan jalan tengah bagi kedua ekstrimitas ini juga disertai sikap al-iqtishad (moderat) yang tetap memberikan ruang dialog bagi pemikiran yang berbeda-beda.

Pentingnya moderasi dituangkan dalam al-Qur’an.

وكذلك جعلناكم امة وسطا لتكونوا شهداء علي الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا (البقرة 2  :143)

Dan demikian Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Menurut Imam Muhammad Nawâwi al-Jâwi, wastha artinya terpilih, adil, dan terpuji karena ilmu dan amalnya.[14] Menurut Wahbah al-Zuhaili, wasatha adalah pertengahan sesuatu atau pusatnya wilayah (muntashif al-syaii au markaz al-dâirah), kemudian digunakan untuk sesuatu yang terpuji, karena setiap sifat yang terpuji adalah pertengahan diantara dua sisi, seperti sifat pemberani (syajâ’ah) adalah pertengahan  antara melampaui batas dan pemborosan, dan utamanya adalah ditengah.[15] Menurut Abu Thâhir Muhammad ibn Ya’qûb al-Fairûzâbâdi, wasatha artinya adil.[16] Adil menurut Nabi Muhammad SAW. adalah memberikan kepada setiap orang atau subjek haknya (i’thâu kulli dzi haqqin haqqahu).[17] Pendapat para ulama ini menunjukkan status dan peran besar yang harus dilakukan umat Islam.

2.     Al-Tasamuh

Tasamuh adalah toleran terhadap pluralitas pemikiran. Dalam hukum Islam, Aswaja responsif terhadap produk pemikiran madzhab-madzhab fikih. Dalam konteks sosial-budaya, toleran dengan tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan berusaha untuk mengarahkannya. Sikap toleran ini memberikan nuansa khusus dalam hubungannya dengan dimensi kemanusiaan dalam lingkup yang lebih universal.

3.     Al-Tawazun

Tawazun adalah keseimbangan, terutama dalam dimensi sosial-politik. Prinsip ini dalam kerangka mewujudkan integritas dan solidaritas sosial umat Islam. Bukti dari pengembangan corak al-tawazun ini dapat disaksikan dari dinamika historis pemikiran-pemikiran al-Asy’ari dan al-Ghazali. Asy’ari lahir di tengah dominasi ekstrimitas rasionalisme Mu’tazilah dan skriptualisme Salafiyah, sedangkan al-Ghazali menghadapi gelombang besar ekstemitas kaum filosof Syi’ah dan Batiniyyah.

Menurut al-Ghazali, rasionalisme bisa mengantarkan kemajuan, namun bisa menjauhkan manusia dari Tuhannya. Sebaliknya, aspek batin mendapatkan atensitas berlebihan, dapat melumpuhkan intelektualitas, kreativitas dan etos kerja. Maka dibutuhkan keseimbangan antara tuntutan-tuntutan kemanusiaan dan ketuhanan. Di tangan al-Ghazali muncul konsep penyatuan antara tatanan duniawi dan tatanan agama dan juga ideologi integrasi agama dan negara. Jika di era Mu’tazilah, hanya mengukuhkan nilai berdasarkan akal, pada ditangan al-Ghazali, nilai dibentuk oleh proses integrasi antara agama, dunia, dan negara.[18]

4.     Al-Taqaddum (progresif)

Tiga prinsip di atas harus ditambah dengan al-taqaddum (progresivitas). Prinsip ini mendorong warga NU untuk berpikir maju dalam mengembangkan semua sektor, khususnya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan. Dunia ini adalah media kompetisi, siapa yang terbaik dialah yang memenangkan persaingan. Maka, tidak cukup berpikir moderat, toleran, dan mengedepankan keseimbangan. Bergerak maju dengan cepat adalah modal menggapai kesuksesan.

Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk aktif dan progresif menyongsong masa depan.

كنتم خير امة اخرجت للناس تاْمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر و توْمنون بالله (ال عمران 3  : 110)

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan   mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Menurut Imam Muhammad ibn Shumâdih al-Tujaibi, pengertian khaira ummah ada dua pendapat. Pertama, adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kedua, adalah umat Nabi Muhammad SAW. sebagai umat terbaik.[19] Menurut Wahbah al-Zuhaili, predikat umat terbaik selama konsisten memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah secara benar, jujur, dan sempurna.[20] Pendapat ulama ini menjadi tantangan serius umat Islam untuk membuktikannya dalam realitas.

Ayat ini mendorong umat Islam untuk aktif melakukan reformasi sosial menuju tegaknya kebenaran, keadilan, kesetaraan, kemajuan, dan kesejahteraan umat. Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. dan khulafâ’ al-râsyidîn mampu membangun masa kejayaan dalam bidang ekonomi, keilmuan, militer, sosial dan politik dengan modal al-Qur’an-hadis, maka umat Islam sekarang harus mengobarkan semangat berjuang untuk menggapai kejayaan dalam semua bidang, karena selain al-Qur’an-hadis, umat Islam sekarang sudah mempunyai modal besar, seperti warisan pemikiran dan peradaban umat Islam masa lalu yang bisa dijadikan cermin. Sejarah konflik dihilangkan, persatuan digalang, dan program-program visioner dirintis dan dikembangkan secara produktif. Logikanya sederhana, tidak mungkin melakukan amar ma’rûf nahyi munkar kalau dalam posisi lemah dan tertindas. Tugas tersebut meniscayakan umat Islam sebagai pemimpin, pengendali, dan pengatur kebijakan dunia, sehingga bisa menebarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kesetaraan universal.

Ingat sabda Nabi Muhammad SAW. :

الموْمن القوي خير واحب الي الله من الموْمن الضعيف, وفي كل خير, احرص علي ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجز, وان اصابك شيئ فلاتقل لو اني فعلت كان كذا وكذا, ولكن قل : قدر الله وماشاء فعل, فان لو تفتح عمل الشيطان (رواه مسلم)[21]

Umat Islam yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada yang lemah, dan semuanya baik. Bergegaslah pada sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah, dan kalau kamu tertimpa sesuatu, janganlah berkata ‘seandainya aku mengerjakan ini, maka akan terjadi ini dan itu, tetapi ucapkanlah Allah sudah menakdirkan sesuatu, dan apa yang dikehendaki pasti terjadi, karena kata ‘seandainya’ akan membuka aksi Setan (HR. Muslim).

Hadis ini sungguh luar biasa, menggugah kesadaran dan semangat umat Islam untuk berpretasi dan memacu diri dalam meningkatkan potensi untuk meraih kemenangan demi kemenangan dalam kompetisi global sekarang ini. Jangan sampai merasa lemah, putus asa, dan rendah diri. Umat Islam adalah umat terbaik dan lebih tinggi derajatnya, maka kemenangan adalah keniscayaan yang harus diraih demi masa depan yang lebih cemerlang.

E.     Manhaj Pemikiran Imam al-Asy’ari

Metodologi pemikiran Imam al-Asy’ari adalah mengedepankan wahyu di atas akal. Berbeda dengan Mu’tazilah dan Qadariyah yang mengedepankan akal dari wahyu. Seperti Imam Malik yang tidak mau menta’wil ayat-ayat mutasyabihat. Pendirian ini diikuti oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Dawud al-Dhahiri, dan lain-lain.[22]

Salah satu contoh buah pemikirannya adalah :

  1. Kalamullah adalah qadim, bukan makhluk
  2. Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah
  3. Meyakini adanya Dajjal
  4. Meyakini Malaikat siksa kubur
  5. Meyakini Malaikat Munkar Nakir
  6. Meyakini Isra’ Mi’raj
  7. Meyakini kebenaran sebagian tafsir mimpi
  8. Sedekah dan do’a bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal
  9. Surga dan neraka ciptaan Allah
  10. Orang yang meninggal dan terbunuh berdasarkan takdir Allah
  11. Rezeki, halal dan haram, semuanya dari Allah
  12. Meyakkini telaga Kautsar
  13. Meyakini Syafaat Nabi
  14. Melihat Allah di surga
  15. Mengakui khalifah Abu Bakar al-Shiddiq[23]

Menurut Syekh Muhammad Abu Zahrah, pandangan Imam al-Asy’ari adalah moderat, karena mencoba mencari jalan tengah antara pihak-pihak yang berlebihan, yang menafikan dan menetapkan, dan pihak-pihak yang tarik menarik pada ujung-ujung pertentangan seperti golongan Mu’tazilah, Hasywuyah, dan Jabariyah. Misalnya dalam beberapa hal, antara lain : Sifat-sifat Allah; Kekuasaan Allah dan perbuatan manusia; Al-Qur’an; dan Dosa besar.[24]

F.      Manhaj Pemikiran Imam Abu Manshur al-Maturidi

Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad al-Maturidi as-Samarwand lahir di Maturid, sebuah kota kecil dari daerah Samarqand pada pertengahan abad ke-3 H. atau pertengahan dua abad ke-9 M. (Zahrah, t.t.:76). Beliau meninggal pada tahun 944 M. Sayangnya, Imam al-Maturidi tidak banyak diketahui riwayat hidupnya (Nasution, 1986:76). Maka wajar, kalau riwayat pendidikannya tidak banyak diketahui publik.

Beliau pernah berguru kepada Nabr ibn Yahya al-Balakhi dalam bidang fikih dan kalam madzhab Hanafi. Lalu beliau berguru kepada Abu Nabr al-Iyyad, Abu Bakar al-Jurjani dan Muhammad ibn Hanbal Asy-Syaibani. Kota Samarqand, tempat Imam al-Maturidi dibesarkan, menjadi arena perdebatan antara aliran fiqh Hanafiyyah dan Syafi’iyyah. Juga perdebatan antara fuqaha’ dan ahli hadis di satu pihak dan aliran Mu’tazilah di pihak lain. Inilah yang mendorong Imam al-Maturidi untuk mendalami fikih dan ushul fikih serta ushul al-din. Sebagai pengikut Abu Hanifah yang banyak menggunakan rasio dalam pandangan keagamaan, Imam al-Maturidi banyak pula menggunakan akal dalam kajian kalamnya (Nasution, 1986:76).

Imam al-Maturidi menggunakan metode berpikir ‘aqli (rasional), sedangkan Imam Imam Asy’ari menggunakan metode berpikir naqli (berdasarkan teks ayat dan hadis. Bahkan Abd Wahhab al-Khallaf mengatakan bahwa aliran Maturidiah merupakan aliran moderat (wasath/mu’tadil). Maturidiyah berada di antara posisi Mu’tazilah dan Asy’ariyyah. Secara lebih detail, buah pemikiran Imam al-Maturidi adalah sebagai berikut :

  1. Akal dan fungsi wahyu

Akal dapat menjangkau kesimpulan tentang adanya Allah, juga mampu mengetahui kewajiban berterima kasih kepadaNya. Karena Allah adalah pemberi nikmat, maka manusia harus dapat mengetahui keharusan berterima kasih kepada pemberi nikmat. Imam al-Maturidi juga berpendapat bahwa akal bisa mengetahui baik dan buruk sesuatu berdasarkan sifat-sifat dasar (nature) yang baik pada perbuatan baik dan sifat-sifat buruk pada perbuatan buruk. Menurut Imam al-Maturidi, baik dan buruk ada tiga hal. Pertama, kebaikan yang hanya dapat dicapai oleh akal semata-mata. Kedua, kebaikan dan keburukan yang tidak dapat dicapai oleh akal, dan hanya diperoleh melalui wahyu. Ketiga, kewajiban melaksanakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk, akal tidak bisa bertindak sendiri dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya, karena pembuat taklif hanya Allah SWT.

  1. Perbuatan manusia

Perbuatan manusia terbagi dua. Pertama, perbuatan Allah yang mengambil bentuk penciptaan daya pada diri manusia. Kedua, perbuatan manusia yang mengambil bentuk pemakaian daya berdasarkan pilihan dan kebebasan. Daya itu diciptakan bersama-sama dengan perbuatannya, karena perbuatan manusia dikatakan ciptaan Allah. Perbuatan yang diciptakan itu diperoleh manusia melalui peran aktifnya dengan menggunakan daya ciptaan Allah.

  1. Perbuatan Allah

Perbuatan Allah mengandung hikmah yang ditentukan sendiri, tidak ada yang sia-sia. Perintah dan larangan dari Allah pasti mengandung hikmah. Diperintahkan karena banyak mengandung manfaat dan dilarang karena banyak madharatnya. Mustahil bagi Allah memerintahkan keburukan dan melarang perbuatan baik. Namun, perbuatan itu tidak wajib, karena kalau wajib meniadakan iradah Allah, jika wajib maka Allah dipaksa, dan apabila dipaksa berarti derajat Allah dibawah makhluk.

  1. Perbuatan Dosa Besar dan Iman

Amal sebagian dari iman, jika seseorang melakukan dosa besar, sedangkan ia masih beriman kepada Allah dan RasulNya, maka ia tetap seorang mukmin. Dosa besar tidak membuat seseorang abadi di neraka, sekalipun mati sebelum bertaubat. Alasan yang dikemukakana dalah Allah akan membalas kejahatan dengan hukuman yang setimpal. Dosa yang tidak diampuni hanya syirik. Sepanjang seseorang tidak syirik, maka ia tetap mukmun dan kalaupun ke neraka tidak selamanya.

  1. Sifat-sifat Allah

Allah memiliki sifat. Sifat bukanlah dzat, sifat bukanlah yang tegak atau melekat pada zat, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa terbilangnya sifat akan mengakibatkan kepada ta’addud al-qudama’. Contoh, Tuhan Maha Mendengar, Imam al-Maturidi tidak mengatakan bahwa Allah itu Maha Mendengar dan pendengaran-Nya itu adalah zatNya. Juga tidak mengatakan bahwa pendengaran Allah itu berdiri sendiri terpisah dari zatNya yang mengakibatkan berbilangan sesuatu yang qadim.

  1. Keqadiman al-Qur’an

Kalam Allah adalah makna yang berada pada zatNya. Ia qadim dengan keqadiman yang tinggi. kalam Allah pada mulanya tidak terdengar karena jika terdengar, berarti suara, sedangkan suara itu baru atau makhluk. Kalam Allah ada dua, kalam nafsi, yang sifatnya qadim, dan kalam lafdzi, yang sifatnya hadis. Tuhan tidak akan pernah menyalahi janjinya. Tuhan pasti memberi pahala orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat. Tuhan tridak memiliki kekuasaan mutlak lagi karena dibatasi oleh keadilannya. Tuhan tidak mungkin membebani hambaNya dengan beban di luar kemampuannya.

  1. Melihat Allah

Melihat Allah mungkin karena hari kiamat berbeda dengan dunia. Pada hari kiamat berlaku ilmu Allah yang khusus, tanpa harus bertanya bagaimana caranya. Adapun pengibaratan melihat Allah dengan melihat bulan tanpa awan adalah memudahkan pemahaman.[25]

G.    Manhaj Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari

Aswaja di Indonesia sudah melekat sejak lama, dari generasi awal, yaitu Wali Songo, sampai generasi sekarang. Salah satu tokoh yang memproklamirkannya adalah KH. M. Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama dan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Menurut Kiai Hasyim, Aswaja adalah kelompok yang tetap mempertahankan tradisi keagamaan lama dan tetap berada dalam koridor salafiyyun. Kelompok ini menunjuk pada muslim tradisional Jawa yang tetap mempertahankan tradisi keagamaan yang diwarisi dari ulama-ulama salaf, seperti hanya berpegang kepada salah satu madzhab tertentu, selalu mendasarkan pada kitab-kitab yang populer sebagai rujukan menjalankan agama, memiliki kecintaan yang tinggi terhadap keluarga Nabi, para wali dan ulama salih. Tidak hanya itu, mereka mempercayai dan mempraktekkan ‘meminta keberkatan’ (tabarruk) kepada Nabi, keluarganya, para wali dan ulama salih, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka juga melakukan ziarah ke makam, meneruskan tradisi talqin mayit, bersedekah untuk mayit, serta meyakini kebenaran doktrin syafa’ah, kebermanfaatan doa melalui si mayit atau tawassul, dan sebagainya.[26]

Fokus Aswaja yang dikembangkan Kiai Hasyim adalah mengharuskan generasi sekarang untuk bermadzhab kepada generasi masa lalu yang cukup otoritatif dan membela tradisi keagamaan yang telah sekian lama dikembangkan oleh para ulama.[27] Pemikiran Kiai Hasyim mempunyai relevansi lokalitas yang sangat kuat, karena beliau merespons persoalan aktual yang terjadi di Jawa. Keharusan mengikuti madzhab jelas melihat kapasitas orang-orang Indonesia, khususnya yang belum sampai kepada derajat mujtahid dan juga dalam rangka melestarikan warisan budaya Wali Songo yang berhasil mengislam orang Jawa dengan pendekatan budaya lokal. Sebagai seorang pakar hadis, Kiai Hasyim mempunyai dasar keagamaan yang kuat untuk melegitimasi pemikirannya. Metode pemikiran Kiai Hasyim adalah kombinasi tekstual dan kontekstual. Tekstual karena mengkaji al-Qur’an, hadis, dan pemikiran para ulama, kontekstual karena membumikan esensi al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama sesuai dengan kebutuhan lokal masyarakat.

Metode dan produk pemikiran Imam al-Asy’ari, Imam al-Maturidi dan KH. M. Hasyim Asy’ari di atas memberikan kejelasan pemahaman kepada kita bahwa Ahlussunnah wal jama’ah selalu menekankan moderasi, toleransi, keseimbangan, dan progresivitas dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan, sehingga eksistensinya senantiasa diterima semua golongan. Kemaslahatan, keadilan, dan kesejahteraan dunia-akhirat selalu menjadi tujuan Aswaja. Radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme menjadi musuh Aswaja yang harus direspons dengan pencerahan intelektual dan aksi sosial progresif untuk membumikan Islam sebagai rahmah bagi seluruh alam.


[1] Badrun Alarna, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja, Yogyakarta  : Tiara Wacana, 2000, cet. 1, hlm. 36-37

[2] Badrun Alarna, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja, Yogyakarta  : Tiara Wacana, 2000, cet. 1, hlm. 40

[3] FKI LIM, Gerbang Pesantren, Pengantar Memahami Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, Kediri : Litbang Lembaga Ittihadul Muballigin PP. Lirboyo, 2010, cet. 2, hlm. 3

[4] Badrun Alarna, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja, Yogyakarta  : Tiara Wacana, 2000, cet. 1, hlm.  33

[5] Abi al-Hasan Ali ibn Ismail al-Asy’ari, al-Ibanah An Ushul al-Diyanah, Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t., hlm. 14

[6]Zuhairi Misrawi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan, Dan Kebangsaan, Jakarta : Kompas, 2010, cet. 1, hlm. 107

[7]Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), Sejarah, Ajaran, dan Perkembangannya, Jakarta : Rajawali Press, 2010, cet. 1, hlm. 190

[8] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin Dan Peradaban, Jakarta : Paramadina, 2000, cet. 4, hlm. 282-84 . Dalam karyanya Imam Asy’ari menegaskan bahwa usaha seorang hamba itu diciptakan oleh Allah. Baca Imam al-Asy’ari, al-Luma’ fi aal-Raddi Ala Ahl al-Ziaghi wa al-Bida’i, Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000 M./ 1421 H., cet. 1, hlm. 43

[9] Tim Bahtsul Masail PCNU Jember, Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik, Surabaya : Khalista & LBMNU Jember, 2008, cet. 2, hlm. 70

[10] Mohammad Hasyim Asy’ari, Risâlah Ahlissunnah Wal Jamâ’ah, Jombang : Maktabah Turâst al-Islâmi, 1418 H., cet. 1, h. 6-8. Pendapat ini dikutip Kiai Hasyim dari Syekh Zarûq dalam kitab Uddah al-Murîd.

[11] Tim Bahtsul Masail PCNU Jember, Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU , …, hlm. 70-71

[12] Mohammad Hasyim Asy’ari, Risâlah Ahlissunnah Wal Jamâ’ah,  …, h. 8. Untuk lebih memperkaya wawasan tentang bid’ah ini bisa dibaca dalam Tim Bahtsul Masail PCNU Jember, Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik (H. Mahrus Ali), Surabaya : Khalista&LBM NU Jember, 2008, cet. 2, h. 69-116

[13] Sudah banyak buku mengupas hal ini, salah satunya adalah karya Munawir Abdul Fattah, Tradisi Orang-Orang NU, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2007, cet. 3; Tim Kodifikasi LBM PPL, Dalil-Dalil Aqidah Dan Amalliyah Nahdliyah, Kediri : Pondok Pesantren Lirboyo, 2011, cet. 2, Zaenal Abidin bin Ibrahim, Tanya Jawab Akidah Ahlussunnah wal jamaah, Surabaya : Khalista, 2009, cet. 1

[14] Muhammad Nawâwi al-Jâwi, al-Tafsîr al-Munîr li Ma’âlim al-Tanzîl, Surabaya : Al-Hidâyah, t.t., Juz 1, hlm. 37

[15] Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr fi al-Aqîdah wa al-Syarîah wa al-Manhaj, Beirut : Dâr al-Fikri, 1430 H./2009 M., Jilid 1, cet. 10, hlm. 367

[16] Abu Thâhir Muhammad ibn Ya’qûb al-Fairûzâbâdi, Tanwîr al-Qulûb min Tafsîr Ibn Abbas, Surabaya : Al-Hidâyah, t.t., hlm. 16

[17] Masdar Farid Mas’udi, Pajak itu Zakat, Uang Allah untuk Kemaslahatan Rakyat, Bandung : Mizan, 2010, cet. 1, hlm. 152-153

[18] Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah, Surabaya : Khalista&LTN PBNU, 2010, cet. 1, hlm. 61-66

[19]  Imam Muhammad ibn Shumâdih al-Tujaibi, Mukhtashar Tafsîr al-Thabari, Beirut ; Dâr Ibn Katsîr, 2004, hlm. 64

[20] Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr …, jilid 2, cet. 10, hlm. 363

[21] Muhammad Ali al-Shâbuni, Min Kunûz al-Sunnah, Dirâsah Adabiyyah wa Lughawiyyah min al-Hadîs al-Syarîf, Surabaya : Syirkah Bankul Indah, t.t., hlm. 41

[22] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), …, hlm. 215

[23] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), …, hlm. 215-247

[24] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), …, hlm. 247-253

[25] AN. Nuril Huda, Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) Menjawab Persoalan Tradisi dan Kekinian, Jakarta : LDNU&GP Press, 2007, cet. 2, hlm. 181-193

[26] Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari , …, hlm. 148-149

[27] Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari , …, hlm. 154

Posted on April 2, 2012, in Artikel Aswaja and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: