Mengharap Berkah (Tabarruk)

Mengharap Berkah (Tabarruk)

Berkah adalah bertambahnya kabaikan dan kemulyaan.[1] Diantara tanda-tanda orang yang mendapat keberkahan dari Allah SWT adalah kehidupannya penuh dengan kemurahan hati dan manfaat bagi orang lain. Demikian juga tempat yang mendapat keberkahan tandanya adalah kesentausaan, penduduknya senang dan sejahtera, terhindar dari rasa takut dan kemiskinan dan tanahnya subur. Dan keberkahan itu oleh Allah SWT diberikan pada sosok manusia dan pada tempat serta peninggalan merkea.

Yang diberikan kepada sosok manusia adalah sebagaimana firman Allah SWT:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ [2]

“Dan Dia jadikan aku (Isa) yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Sedangkan yang berkaitan dengan jejak peninggalan adalah firman Allah SWT:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ[3]

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat.”

Terkait ayat di atas Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki menjelaskan bahwa Tabut tersebut ada pada Bani Israil. Mereka meminta bantuan kepada Allah SWT dan berwasilah dengan menggunakan benda-benda peninggalan yang ada di dalamnya. Benda-benda itu adalah tongkat dan beberapa pakaian nabi Musa AS,  pakaian nabi Harun AS dan beberapa lembar kitab Taurat, sebagaimana disebutkan oleh para ahli tafsir dan sejarah, seperti Ibnu KAtsir, Al Qurthubiy, As Suyuthi, dan At Thabari.[4]

Berasarkan uraian di atas kita ketahui bahwa berkah diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang dicintai-Nya, seperti para nabi, wali dan lain sebagainya. Dan juga diberikan kepada benda-benda peninggalan mereka.

Sedangkan yang     terkait dengan tempat, disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering mengunjungi tempat-tempat yang diberkahi Allah SWT, seperti masjid Quba’. Dalam hadits Ibnu Umar disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْتِي قُبَاءً مَاشِيًا وَرَاكِبًا[5]

“Bahwa Rasulullah mendatangi masjid Quba’ dengan berjalan kaki dan dengan berkendara.”

Dan tujuan kunjungan beliau tiap hari Sabtu itu tidak lain adalah karena demi mendapat keberkahan karena masjid Quba adalah termasuk masjid yang diberkahi.

Mengharap berkah juga dilakukan para Sahabat Rasulullah SAW. Mereka mengharap berkah pada rumah, mimbar, tempat shalat, apa yang disentuh dan dikenakan Rasulullah SAW. Demikian juga para Tabiin mencium tangan para Sahabat yang sebelumnya telah bersentuhan langsung dengan tangan Rasulullah SAW dan masih banyak lagi yang lain. Dalam hadits Abdullah, budak yang dimerdekakan Asma binti Abu Bakar disebutkan:

أَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةً طَيَالِسَةً عَلَيْهَا لَبِنَةُ شَبْرٍ مِنْ دِيبَاجٍ كِسْرَوَانِيٍّ وَفَرْجَاهَا مَكْفُوفَانِ بِهِ قَالَتْ هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُهَا كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَلَمَّا قُبِضَتْ عَائِشَةُ قَبَضْتُهَا إِلَيَّ فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرِيضِ مِنَّا يَسْتَشْفِي بِهَا[6]

“Asma’ memperlihatkanpadaku sebuah jubah Thayalisah yang di atasnya terdapat sejengkal bata dari sutera Kisra. Kedua celahnya dikelilingi sutera itu. Dia mengatakan, “Ini adalah jubah Rasulullah yang dulu beliau kenakan. Jubah ini disimpan Aisyah. Ketika Aisyah meninggal aku menyimpannya. Kami membasuhkannya kepada orang sakit kami, berharap mendapat kesembuhan dengannya.” 

Meskipun demikian semua ada hal yang harus selau diingat, yaitu bahwa mengaharap berkah hanyalah semata-mata sarana untu mendapatkan rahmat dan bantuan Allah SWT, karena berkah itu hanya dari Allah SWT. Tidak boleh orang berkeyakinan bahwa hal-hal itulah yang memberi keberkahan. Sosok-sosok manusia diharap berkahnya karena kemuliaan dan kedekatannya dengan Allah SWT, dimana mereka tidak dapat mendatangkan kebaikan atau menghindarkan keburukan kecuali atas ijin Allah SWT. Jejak-jejak dan peninggalan diharap berkahnya karena terkait dengan mereka. Sedangkan tempat-tempat diharap berkahnya karena kebaikan yang ada di sana.[7]

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa berkah memang ada dan mengharap keberkahan juga ada dasarnya. Diantara bentuk mengharap keberkahan itu adalah berziarah e makam-makam para wali dan tempat-tempat mulia. Semua itu diperbolehkan selama tidak meyakini bahwa hal-hal tersebut yang memberikan berkah, karena berkah itu Allah SWT yang memberikan.


[1] Al Qoul al Badi’ fi as Shalah ala Al Habib as Syafi’, hal. 91

[2] QS Maryam; 31

[3] QS Al Baqarah; 248

[4] Mafahim Yajib An Tushahhah, hal. 153

[5] Shahih Al Bukhari, nomor 1118

[6] Musnad Ahmad bin Hambal, nomor 25705

[7] Mafahim Yajib An Tushahhah, hal. 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: